Pondok Pesantren Salafy Zumrotuttholibin Kacangan di Mojo Andong Boyolali
  Menu Utama
Sejarah Ponpes
Fasilitas Ponpes
Artikel Santri
Gallery
Agenda Ponpes
Bahtsul Masaail
Buku Tamu

  Link Islam
Ponpes Lirboyo
Gus Dur
Gus Mus
Islam Liberal
Iwan Hafidz Z
Islam Emansi

  MUQODIMAH

Assalamu'alaikum...
Selamat datang di Website Pondok Pesantren Zumrotuttholibin Kacangan di Mojo Andong Boyolali. Semoga website ini mampu mewakili kami dalam menyampaikan informasi tentang Pondok Pesantren Zumrotuttholibin kepada Masyarakat.



  TEMPAT IKLAN

SILAHKAN PASANG IKLAN DI SINI
HUBUNGI EMAIL KAMI...



























Keindahan yang Dikebiri
Oleh:H.Yazid Makfi El-Ihsany
26/03/2007

Cahaya tercipta, tentu sebagai penerang bagi manusia. Abjad terukir sebagai cikal bakal teks tertulis dan sastra. Tangga nada teruntai sebagai asal muasal lantunan sebuah lagu. Kanvas tergores setelah terciptanya warna, dan hembusan kasih sayang menyemaikan cinta. Anugerah Allah SWT yang berupa cipta, rasa dan karsa bukanlah larangan, melainkan sebuah modal yang mendorong olah akal budi manusia dalam menciptakan sebuah kebudayaan yang akan tumbuh dan berkembang menjadi sebuah peradaban.

Hadits yang berbunyi "al-mushowiruna fi al-nar" sering kita dengar. Sebuah argumen teks agama yang dipergunakan untuk mengharamkan lukisan, foto, seni ukir dan beraneka ragam kesenian serta corak keindahan alam. Ironinya, terkadang hadits di atas malah digunakan secara kebablasan dengan mengharamkan bagan sebagai sample (contoh) dalam disiplin ilmu biologi beserta cabang-cabangnya, serta setiap gambar yang digunakan sebagai tiruan dari wujud aslinya. Malah ada yang lebih parah, mereka mengharamkan kartu identitas, paspor dan mata uang yang bergambar manusia atau hewan.

Mahmud Sa'id, Pablo Picasso, Basuki Rahmat adalah deretan produsen lukisan yang luar biasa. Haruskah kita cegah mereka untuk berkreasi?. Layakkah setiap goresan tinta yang menorehkan keindahan dilarang?. Haruskah seni pahat dan seni patung dikebiri oleh agama?. Padahal kesemuanya merupakan hasil goresan yang patut diapresiasi yang menyentuh perasaan, menghaluskan nurani, dan meluluhlantakkan egoisme yang ada pada diri kita.

Coba kita sentuh hadis yang berbunyi "al-mushowiruna fi al-nar ", yang sebenarnya sebenarnya bukan penghambat kreasi dan imajinasi, melainkan sebuah peringatan bagi orang-orang yang meyakini didalam hatinya bahwa Allah S.W.T dapat digambarkan dalam bentuk tertentu kemudian merekapun menyembahnya. Sebagaimana orang yang meyakini bahwa Tuhan menyerupai sapi kemudian mengkultuskannya. Atau orang-orang yang beri'tikad bahwa Tuhan menyerupai benda-benda luar angkasa, seperti matahari, bintang, rembulan dan sebagainya. Dus, setiap orang yang terlintas dalam benaknya bahwa Allah SWT menyerupai ciptaanNya dalam bentuk seperti apapun. Kemudian mereka menuhankannya. Pendeskripsian seperti itulah yang akan menjerumuskan diri kita dalam api neraka, sebagaimana termaktub dalam hadits diatas. Lupakah kita bahwa Allah SWT terbebas dari kuantitas, kualitas, keturunan, patner, bentuk yang berlawanan, dan segala sesuatu yang mencemari keMahaesaan-Nya.

"Inna hadza shiroti Mustaqiman fat-tabi'uh." Tatkala ayat tersebut turun Nabi SAW menggambar garis lurus. Kemudian menambahinya ke arah kiri dengan enam garis tegak dan ke kanan enam garis juga, persis seperti pelepah kurma. Sebuah skema yang sangat mustahil diharamkan. Skema, bagan, dan pelbagai gambar petunjuk lainnya merupakan sarana untuk mentransfer sebuah informasi pengetahuan. Bukankah peta strategi perang, peta geologi, sketsa alam, skema tehnik, dan pelbagai gambar petunjuk dalam disiplin ilmu fisika merupakan untaian goresan tinta yang layak disebut sebagai gambar. Mungkinkah Rasullullah S.A.W melarang, padahal pasti kita memerlukannya.

Bukankah Rasulullah S.A.W tersohor dengan julukan " jawami'ul kalim ", yang berarti perkataan yang terucap dari Rasul singkat tapi padat, dan sering disalah artikan oleh sebagian orang. Walhasil kita harus mampu menangkap pesan-pesan teks secara substansial, tidak terbatas dari lahirnya saja. Sebab pada dasarnya para penafsir teks suci agama bagaikan orang buta yang menyentuh seekor gajah. Pastilah mereka tidak akan mampu mendeskripsikan bentuk gajah secara utuh. Dan kenapa kita tidak berusaha untuk menyentuh esensinya. Baginda Sulaiman sebagai seorang Nabi, khalifah dan Raja pada masanya, memerintahkan para jin untuk membuat patung. Sebagaimana termaktub dalam al-Quran surat al-Saba' ayat 13. Dengan kata lain apabila patung, gambar, foto atau lukisan dipajang didalam rumah yang tidak mengakui keesaan Tuhan, atau benda-benda tersebut disejajarkan dengan tuhan niscaya malaikat rahmat pun tidak akan pernah memasukinya. Sebab di dalam rumah tersebut terdapat penghambaan yang menyesatkan. Akan tetapi bila benda-benda tersebut dijadikan sebagai sumber inspirasi, keindahan dan hiasan, bukankah malaikat malah tertarik untuk mengunjunginya, dan tentulah halal hukumnya. Tidakkah demikian?

Wallahu a'lam bisshowab


*Penulis adalah Mahasiswa Universitas al-Azhar Kairo Mesir dan ustadz Ponpes Zumrotuttholibin
BACK>>>

Selamat Datang di Website Ponpes Zumrotuttholibin Fasilitas: Asrama, Madrasah Diniyyah, Madrasah Tsanawiyah Ma'arif, Madrasah Aliyah Al-Azhar, Universitas Nahdlatul Ulama' (Cabang Surakarta), Pendidikan Komputer, Pertanian, Peternakan, dll..? Mencetak Ulama' Handal




  Cari

  Info Pengajian Kitab
1. Nashoihul 'Ibad(Ba'da Maghrib)
2. Shohih Bukhori (21.00 WIB)
3. Ihya' Ulumuddin (21.00 WIB)
4. Durrotunnasihin (21.30 WIB)

  ARTIKEL 2

Indonesia sebagaimana kita ketahui menganut konsep demokrasi Barat, di mana kedaulatan di tangan rakyat dan elemen-elemen prosedural seperti pemilihan umum yang bebas, persamaan di depan hukum, kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan pers diterapkan dan dilindungi oleh negara. Sementara itu penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam secara umum adalah penganut paham Sunni, khususnya paham Asy'ariyah di bidang teologi dan Syafi'iyyah di bidang fikih.

Seiring dengan demokratisasi dan desentralisasi sejak runtuhnya Soeharto dengan Orde Baru-nya terjadi kebangkitan peran agama dalam proses politik di Indonesia. Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia melainkan..




Web design By zaenny_07@yahoo.com
Bagi yang ingin mengirim artikel untuk kontribusi baca umat silahkan kirim ke email=ponpeszumro@yahoo.com
Terima kasih
  (C)2006